Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Twilight


Judul Buku: Twilight
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Lily Devita Sari
Editor: Rosi L. Simamora
Tebal: 520 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ini kisah cinta remaja belasan tahun. Sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Tergila- saling dan saling memuja. Kedengarannya sangat biasa bukan ? Tapi eittss..tunggu dulu !!

Twilight ini  adalah judul pertama dari serial Twilight Saga. Disebut-sebut sebagai novel terheboh setelah Harry Potter versi majalah Entertainment Weekly. Dalam novel bergendre remaja ini si cowok bukan remaja biasa, melainkan seorang vampire. Jadi tentu saja sangat menjual dan membuat para remaja penasaran. (Termasuk emak-emak seperti diriku .ha..ha..)Terbit pada Oktober 2005, dan langsung masuk daftar New York Times Bestseller untuk kategori Young Adult hanya dalam jangka waktu satu bulan saja.

New Moon



Judul Asli : New Moon
Judul Indonesia: Dua Cinta
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2008
Tebal: 600 hlm


Kisah diawali saat Bella berulang tahun yang ke 18 , Alih-alih merasa bahagia ia malah memikirkan dirinya yang kini berusia satu tahun lebih tua dari Edward. Ia bahkan sempat bermimpi melihat dirinya menjadia tua dan keriput sementara Edward tetap menawan diusianya yang selalu 17 tahun.

Marcy's Problem at School



Judul Asli: Cat Ate My Jumpsuit
Judul Terjemahan: Marcy's Problem at School
Penulis: Paula Danziger
Penerjemah: Maria M.Lubis
Penyunting: Nadya
Penerbit: Matahati
Tebal: 178 hal

"Perkenalkan, namaku Marcy Lewis. Aku gemuk dan berjerawat. Canggung dan mudah gugup. Sekolahku mengerikan. Aku tahu teman-teman menertawakan di belakangku. Keadaan di rumah lebih buruk. Ayah menganggapku tidak berarti, dan seringkali bertengkar dengan ibu. Singkatnya: aku punya banyak masalah!"

Coraline


Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan I 2004
Tebal: 228 halaman


“Coraline” bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Coraline yang sering salah dipanggil namanya menjadi Caroline. Ia dan orang tuanya baru saja pintah ke sebuah rumah tua, saat itu ia sedang liburan sekolah.  Coraline yang senang “menjelajah” berjalan-jalan keluar rumah dan berkenalan dengan  tetangga barunya, ada Miss Spink, Miss Forcible dan seorang lelaki tua yang melatih tikus-tikus untuk sirkus.

A Spot of Bother



Penulis: Mark Haddon
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Penerjemah: Ferry Halim
Penyerasi: Sidik Nugraha
Cetakan I, April 2008

Ini  kisah sebuah keluaga modern masa kini. Cerita tentang problema keluarga yang jika dicermati dengan bijak adalah cerminan rumit dan kompleknya kehidupan. Hubungan antara suami, istri, orang tua, anak, serta masuknya “orang lain” kedalam sebuah keluarga.


Garden of The Purple Dragon



Penulis : Carole Wilkinson
Penerjemahkan : Claudia
Penyunting : Nadya
Penerbit : Matahati, Mei 2008
Tebal : 422 hal

Ini kisah lanjutan dari Dragon Keeper, resensi buku pertama ini bisa dibaca disini http://echyart.multiply.com/reviews/item/20. Setelah ditinggal Danzi, Ping harus hidup mandiri untuk mengurus bayi naga ungu yang bernama  Long Kai Duan, yang biasa dipanggil Kai. Setelah memiliki pengalaman bersama Danzi, Ping memeutuskan untuk tinggal di kolam naga hitam yang terletak di Pegunungan Tai Shan. Wilayah terlarang kekaisaran. Menurut Ping inilah area paling aman untuk mengurus dan membesarkan Kai.

Bayi Kai suka berenang dan memakan ikan-ikan di kolam, ia juga suka minum susu dan selalu merengek pada Ping jika ia kelaparan. Dan tak pernah lelah mengajak Ping bermain. Kai masih bayi, tapi Ping sudah kewalahan mengurusnya karena Kai tetaplah  seekor naga yang memiliki tenaga besar dan cakar yang membuat Ping sering terluka.

Ping sendiri hidup sederhan dengan mengumpulkan makanan dari hutan, akar-akaran, jamur, ikan, memerah susu kambing dan mencari serangga untuk tambahan makanan Kai.

Walau tidak dibekali ilmu untuk mengurus bayi naga, Ping berusaha untuk mengurus Kai dengan baik, ia mulai berkomunikasi dan kemudian menyadari bahwa Ia  juga bisa mendengar pikiran Kai seperti halnya ia mendengar pikiran Danzi.

Kehidupan tenang Ping dan Kai di hutan terlarang tidak berlangsung lama karena kemudian seseorang kembali mengusik kehidupan mereka—necromancer sang pemburu naga. Namun diluar dugaan ia malah diselamatkan dan kembali bertemu dengan tikus piaraannya yang bernama Hua.

Ping pun kembali berjuang melindungi Kai seperti yang dulu pernah ia lakukan saat bersama Danzi. Ia melakukan perjalanan namun akhirnya tertangkap oleh pengawal kerajaan. Dan kemudian tinggal di Istana kaisar dan kembali menduduki jabatan sebagai  pengurus naga kekaisaran. Ping juga belajar menulis dan membaca pada Putri Yangxin – saudara Kaisar, yang selama ini selalu sedih dan menagis namun langsung tertawa begitu melihat Kai yang lucu .

Sang kaisar yang bernama Liu Che yang dulu sempat bersahabat dengan Ping membuatkan sebuah taman bernama Garden of the Purple Dragon sebagai wujud kebahagiaannya karena sang naga dan pengurusnya masih selamat. Sementara itu sang kaisar masih terus meneruskan obsesinya mencari ramuan awet muda bersama para penasihatnya Dewan Umur Panjang

Disela-sela mengurus Kai yang kini sangat dimanja oleh kaisar, Ping berusaha mencari keberadaan orang tuanya, ia berjuang untuk mengetahui silsilah keluarga dan mengakibatkan ia harus rela berpisah dengan Kai dan terpaksa membiarkan jabatannyanya sebagai pengurus naga direbut orang lain.

Dibalik ketenangan tembok istana  Ping malah bertemu dengan musuh yang sebenarnya. Bahaya masih terus mengancam Kai sebagai naga terahir dan kedudukan Ping sebagai pengurus nagapun dipertaruhkan.


Kai sendiri digambarkan sangat lucu oleh Carole Wilkinson .Kai digambarkan sebagai naga kecil yang nakal, rakus, periang, keras kepala sekaligus menggemaskan bertolak belakang dengan penggambaran Danzi yang tua dan bijaksana.

Dalam berbagai percakapan antara Kai dan Ping mereka diibaratkan sebagai dua sahabat yang saling mengerti, walau terkadang mereka saling menggerutu karena kesal. ungkapan-ungkapan Kai sangat kekanak-kanankan (jika diibaratkan manusia) membuatku merasa geli saat membacanya. Kai juga memberi beberapa gelar pada orang-orang disekitarnya yang sering membuat Ping tertawa.

Ada sebuah kejadian saat Kai masuk kedalam vas yg telah berumur ratusan tahun dan ia terjebak di dalamnya. Saat itu Ping memarahinya dengan menyebutnya "Dasar naga bodoh" kemudian Ping menyuruh pelayan istana untuk mengeluarkan Kai dari vas tersebut dan Kai pun mengadu pada Ping.
 "Celana kedodoran menyakiti hidung Kai" (hal.191)
hahahaha..ia menyebut pengawal istana itu si celana kedodoran.

Kita tunggu kelanjutannya di buku ketiga.

Koleksi : Echy's Book

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

 
Judul Terjemahan: Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Cetakan III, April 2005
Tebal: 311 halaman

Pertama
Covernya..arrrggggg…berwarna shoking pink yang terlalu eye catching ..jueeelekkkk

Kedua..
Judulnya aneh…Insiden Anjing di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran.     
 *oh tuhan..kenapa judulnya seperti itu ?*

Ketiga..
Kenapa babnya ngacak begini ? tidak ada bab 1, tetapi langsung 2, lalu 3, lalu 5, 7, 11, 13?

Keempat…
Lalu kenapa banyak angka ? table? grafik?  Lalu….tunggu.. Persamaan matematika ? oww tidakkkk..ini novel atau textbook sih ? *sigh* 

Kelima…
Kesimpulan sementara: buku yang aneh

Keenam..
dan aku tetap membelinya

Ketujuh
Membaca dan kemudian menulis reviewnya.

Kedelapan
aku suka Mark Haddon

Kesimpulan Ahir
*review yg aneh*Big Smile

Ini buku kedua Mark Haddon yang kubaca setelah Spot of Bother thereview will coming soon
*nantikan penayangannya diblog ini*


Tokoh utama karya Mark Haddon kali ini bernama Christopher Boone, 15 tahun, penderita autistic spectrum disorder (ASD) sejenis autisme. Ia suka segala sesuatu yang teratur, terpola, dan rapi, ia suka warna merah, namun benci warna kuning, Ia mual berada di keramaian dan tidak suka dipeluk, bahkan oleh ibunya.

Walau menderita ASD, Cristopher memiliki kemampuan di atas rata-rata. Ia membaca buku-buku berat untuk anak seusianya, memiliki kemampuan khusus di bidang matematika, berpengetahuan luas, dan daya ingatnya luar biasa. Tak heran jika didalam buku ini ditemukan banyak persamaan matematika, grafik dan berbagai macam hitungan yang biasa Christopher lakukan jika ia dalam keadaan panic. Ia akan mengalihkan perhatian dengan cara memecahkan soal-soal  persamaan bilangan kuadrat diluar kepala. Ia memikirkan berbagai kemungkinan dengan membuat persamaannya sambil memandang ke luar jendela busnya menuju sekolah. Christopher menghitung segala sesuatu melalui logika, Ia  memandang dunia dari sudut pandangnya yang "sederhana", dan kita akan dibawa hanyut ke dalam pola pikir Christopher yang kaku dan hitam putih. Tak ada ruang abu-abu dalam kamusnya.

Kisah ini diawali ketika Christopher menemukan anjing tetangganya yang mati tertusuk sebuah sekop tanaman. Ia yang menyukai kisah-kisah Sherlock Homes kemudian memutuskan akan menelusuri jejak si pembunuh anjing tersebut, dan akan menuliskan kisahnya dalam "proyek menulis" yang dibantu oleh Siobhan guru/psikolog di sekolahnya. Ia menjadi detektif dengan cara menanyai para tetangga secara diam-diam. Hak ini dilakukan karena sang ayah melarangnya mencampuri urusan orang lain.

Dalam menelusuri jejak si pembunuh,  Christopher yang baru saja kehilangan ibunya karena serangan jantung, menemukan fakta lain yang membuatnya semakin rapuh. Ia merasa dibohongi dan ia menutup diri, tidak mau bicara dan ahirnya meninggalkan ayahnya. Sementara ia belum pernah  bepergian lebih jauh dari ujung jalan rumahnya.

Pada moment ini aku merasakan kepedihan hati seorang Christopher, seorang anak yg peka dan bingung memahami perilaku ibu, ayah serta serta lingkungan yg sering diluar logikanya.

Sejatinya manusia tetaplah manusia, tidak peduli ia seorang penderita autis, keterbelakangan mental, miskin, kaya, berwajah cantik atau buruk rupa. Siapapun…pasti ingin diperlakukan dengan layak.

Kutipan berikut diambil saat sang ayah  dalam keadaan putus asa meminta maaf pada Christopher,  yang menurutku sangat menyentuh.

Ayah berkata, "Kita semua pernah berbuat kesalahan, Christopher. Kau, ibumu, aku semua orang. Dan kadang-kadang kita berbuat kesalahan besar. Kita semua hanya manusia biasa. (hal.172)

Dibalik kekurangannya, Christopher adalah seorang pemikir dan pemerhati lingkungan yang teliti, ia melihat banyak hal detil yang mungkin oleh kita orang-orang normal dilewatkan begitu saja.

Diakhir buku terdapat catatan penerjemah yang akhirnya menjawab semua pertanyaaku diawal: kenapa pink? Kenapa judulnya begitu, kenapa oh..kenapa..?
Keseriusan penerjemah tergambar jelas dalam "Catatan Penterjemah"
Penerjemahnya Hendarto Setiadi, benar-benar berusaha masuk kedalam dunia Christopher. Ia bahkan merombak hasil terjemahannya setelah diskusi panjang tentang penderita Sindrom Asperger dengan ahlinya, sehingga berusaha mempertahankan kesalah ejaan penulisan, susunan kalimat untuk menonjolkan pola pikir seorang Cristopher.. Wow..keren !!

MARK HADDON adalah seorang penulis dan ilustrator dari beberapa buku anak . Ia mengajar penulisan kreatif pada yayasan Arvon dan  Universitas Oxford . Bukunya yang terbaru berjudul Spot of Bother yang telah diterbitkan oleh Serambi pada april 2008. Ia kini tinggal Oxford Inggris .

Koleksinya : Echy's Book

The Wednesday Letter

Penerjemah : Maggie Tiojakin
Editor : Ratih Kumala
Penerbit : Gagas Media Agustus 2008

Buku yang cantik, berwarna merah dengan bentuk amplop. Persis seperti sebuah undangan, sebuah amplop dengan ketebalan 336 halaman. Cover adalah daya tarik utama aku ingin membeli buku ini. Jadi nilailah buku melalui sampulnya.
Selain sampulnya yang menggoda, buku ini bergendre drama saudara-saudara, bukan pure romance. Kisah tentang sebuah keluarga, cinta yang tulus dan kerelaan untuk  memaafkan.
Baiklah,
Kisah diawali dengan sepasang suami istri, Jack dan Laurel. Pasangan yang telah menikah selama 39 tahun ini mengelola sebuah penginapan bernama Domus Jefferson—Rumah Jefferson. Berlokasi di jantung lembah Shenandoah di negara bagian Virginia. Jack Cooprer yang berusia 71 tahun sedang berjuang melawan tumor otak
Pada suatu malam disaat kedua pasangan renta ini akan mengahiri hari mereka yang panjang di peraduan, Laurel mendapat serangan jantung, Jack yang mengetahui istrinya dalam keadaan kritis tak bisa berbuat apa-apa. Malam itu mereka hanya memiliki seorang tamu istimewa—Anna Belle--   yang pada saat itu sedang membawa kucing kesayangannya berjalan-jalan. Jack sempat menulis selembar surat saat mengetahui istrinya telah pergi. Kemudian Jack memeluk Laurel dan memejamkan mata. Mereka meninggalkan dunia dalam keadaan berpelukan.
Jack dan Laurel memiliki 3 orang putra, Matthew si sulung, Malcolm si “petualang” yang selalu ribut dengan ayahnya, dan si bungsu Samantha seorang polisi. Ketiga putra keluarga Cooper merasa shock dengan berita kepergian kedua orang tua meraka secara bersamaaan. Mereka mengira Jack-lah yang akan lebih dahulu berpulang.
Disaat persiapan pemakaman Jack dan Laurel, Anna Belle menemukan sebuah kardus yang penuh berisi surat-surat Jack untuk Laurel, yang  kemudian meraka ketahui bahwa Jack selalu rutin menulis surat hari rabu untuk istrinya, yang dimulai sejak malam pernikahan meraka ( can you imagine that ? its so sweet .. )
Ketiga putra Jack dan Laurel mulai membaca surat-surat tersebut, diluar dugaan ada sebuah rahasia keluarga yang sangat memilukan. Rahasia besar yang ternyata disembunyikan oleh orang tua mereka. Dan rahasia itu kemudian terungkap melalui surat-surat Jack. Mereka bertiga menyadari bahwa kedua orang tua mereka telah tiada, melalui surat-surat tersebut mereka mendapati bahwa kedua orang tua meraka bukanlah orang tua yang sempurna, namun Jack dan Laurel berhati mulia, meraka orang-orang yang berani menerima kenyataan dan mau memaafkan.
Pada awalnya aku berpikir isi buku ini akan melulu dipenuhi oleh surat-surat Jack untuk Laurel, namun ternyata aku salah menduga, Jason F. Wright penulisnya dengan piawai membuat kisah ini tidak monoton dengan melulu menceritakan isi surat-surat Jack. Masing-masing anggota keluarga mempunyai problem masing-masing yang diungkapkan dengan lancar dan saling melengkapi keutuhan cerita. 4 bintang untuk The Wednesday Letter.
Jason F.Wright adalah pengarang buku bestseller berjudul Chrismast Jar. Bekerja sebagai konsultan  dan menulis banyak artikel mengenai politik, budaya  dan uu sosial. Ia juga mendirikan situs politik bernama PoliticalDerby.com dimana ia menjabat sebagi Managing Editor

Koleksinya : Echy's Book

Karlsson si Manusia Atap


Penerjemah: Purnawati Olsson
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 163 halaman
Aku menemukan buku ini di Gramedia Bsm. Terselip diantara buku-buku dewasa. Setelah mengubek-ubek dengan semangat ternyata memang tinggal satu-satunya, tanpa perlu berpikir buku ini langsung masuk kantong belanjaan.
Kisah dalam buku ini sempat membuat kami-- aku dan ananta-- tertawa geli sekaligus geram. Tanpa banyak komentar, inilah Karlsson si Manusia Atap, Astrid Lindgren gitu lohhh…
Keluarga  Svantesson tinggal sebuah apartemen di Stockholm. Mr. Svantesson  memiliki tiga orang anak. Mereka adalah Bosse, Bettan dan Lillebror.
Si bungsu Lillebror berumur 7 tahun (Ananta sempat berkomentar begini " sama dengan adek ya bu ?" dan Ia senang sekali karena mereka seumur hihi ). Lillebror bermata biru, berhidung mancung, bertelinga kotor serta mengenakan celana yang selalu sobek di bagian lutut (nah..kalau yg terahir ini, aku sudah melaluinya dengan selamat. Sebuah fase dimana Ananta merasa keren jika celananya sobek di area lutut.)
Si sulung Bosse berumur 15 tahun. Ia senang bermain bola dan malas ke sekolah. Bettan 14 tahun, seorang gadis abg yang mulai suka membawa teman laki-lakinya ke rumah,  si bungsu Lillebror selalu mengganggu kehadiran teman-teman kakaknya . Begitu pula dengan Bosse dan Bettan, mereka  suka menggoda adiknya dengan memanggilnya si anak bawang.
Tak ada yang istimewa dari keluarga ini. Sesuatu yang menarik justru berada di atas apartemen mereka, yaitu Karlson si Manusia Atap, Ia benar- benar tinggal di atap apartemen dimana Lillebror tinggal. Karlson bertubuh pendek, gendut dan  bossy. Yang paling menarik ternyata Karlson memiliki baling-baling di punggungnya, yang  jika dinyalakan akan berputar dan mengangkatnya terbang.
Pada suatu hari saat Lillebror sedang bosan berada di kamarnya, Ia melihat Karlsson terbang melintasi jendela kamar dan mereka pun berkenalan. Karlsson masuk ke kamar Lillebror sambil mengucapkan salam "Haisan Hopsan" dan mulai mengacak-acak mainan yang ada di kamar tersebut, bukan hanya itu, Karlsson juga meledakkan mainan kereta api milik Lillebror yang hanya boleh ia mainkan bersama ayahnya. Tanpa rasa bersalah Karlsson berkata " Aah..itu kan hanya barang duniawi yang tidak perlu dipermasalahkan". Selain bossy, Karlsson juga selalu mengaku yang ter….di dunia. Ia mengaku paling baik, masinis paling baik, pengasuh bayi paling baik, hantu terhebat, dst..
Sejak kenal dengan Karlsson, Lillebror yang pada awalnya sering merasa bosan dan jengkel karena ulah kedua kakaknya, mulai merasa terhibur. Ia merasa punya teman baru, ia sering bermain dan menunggu kehadiran Karlsson. Ia menuruti hampir semua keinginan Karlsson, Walaupun Karlsson sering menipu dan menimbulkan masalah. Namun  sayangnya tak seorang pun anggota keluarga  dan temannya yang percaya tetang kehadiran Karlsson si manusia atap ini. Semua orang menganggapnya Lillebror membual.
Seperti biasa Atrid Lindgren selalu piawai dalam menceritakan kehidupan anak-anak, hangat dan tidak jauh dari kejadian sehari-hari yang ringan. Ada beberapa bagian yang membuat Ananta (dan aku tentu saja ) tersenyum penuh arti.

"Makanan yang tidak kusukai pasti bergizi tinggi. Aku benar-benar heran, kenapa sih semua vitamin harus dimasukkan ke dalam makanan yang tidak enak?" (hal.100)
Lalu saat Karlsson bertanya pada ibunya apakah ia harus menikahi istri Bosse jika nanti kakaknya itu meninggal ? sampai ahirnya ibunya bertanya kenapa ia sampai berpikiran begitu, inilah alasannya .
"Aku kan mendapatkan sepeda tua Bosse, peralatan main ski bekasnya, juga sepatu seluncur es yang dulu ia pakai waktu seumurku. Juga piama bekas dan sepatu olahraganya yang dulu" (hal 124)
Lalu ibunya berkata:
"Ya, tetapi ibu janji kau tak perlu mendapatkan bekas istrinya "  (hal.124)
Kemudian Lillebror bertanya "Boleh tidak aku  ia menikah dengan ibu saja ?" Lalu Ibunya menjawab,  ia telah menikah dengan ayah Lilllebror. Lalu Ia berpikir "Benar juga..Aku benar-benar tidak beruntung, kenapa sih Ayah dan aku jatuh cinta pada orang yang sama?" tanya Lillebror dengan kecewa. Hahahahah….
Sangat menyentuh dan masuk akal bukan ? benar-benar pikiran polos seorang anak. I love Astrid Lindgren.

 koleksinya : Echy's Book